MUSLIMAH- Para ibu muda kini sudah dibuat pusing. Anak pertama yang baru duduk di bangku playgroup atau PAUD, sudah diberikan PR oleh gurunya.

Dengan alasan agar anak mau belajar di rumah, mereka sudah dibebankan pekerjaan rumah di usia yang masih sangat kecil. Padahal, tujuan utama mereka disekolahkan umumnya karena mommies ingin mereka bersosialisasi dan bermain edukatif.

Ketika calistung tidak diperbolehkan masuk dalam kurikulum TK, sementara PR calistung diberikan sejak pra-TK, tentu tidaklah bijak. Semua dengan alasan memenuhi tantangan zaman.

Apakah dengan mengerjakan segudang PR, anak akan maju secara akademis dan kepribadiannya?

Ketika anak mengerjakan PR dengan terpaksa, terlebih di tengah rasa lelah karena jam sekolah yang panjang, akan sulit baginya mengingat apa yang telah dikerjakannya. Ia mengerjakan PR dengan tergesa-gesa, tanpa keinginan untuk memahami dan menelitinya. Tak jarang anak meminta bantuan orangtua, guru les privat, atau pengasuh untuk mengerjakan PR.

Banyaknya PR tidak menjamin anak tumbuh lebih baik, baik secara akademis maupun psikologis. Dengan mengikis waktunya bermain, bersosialisasi, beraktifitas fisik di luar rumah, kematangan dan pemikirannya bisa sulit berkembang. Anak bisa jadi tidak memiliki inisiatif dan semangat karena merasa sudah kesulitan dengan PR yang menumpuk.

Para orangtua harus kompak meminta pengertian dari para guru. Durasi belajar yang sudah panjang di sekolah, harus mampu dimanfaatkan semaksimal mungkin untuk menggali kecerdasan anak. Dan saat di rumah, biarkanlah anak mengembangkan keterampilan di luar akademik, demi menjadi manusia cerdas yang utuh IQ, EQ, dan SQ. Khaira Kimela