MUSLIMAH-Orangtua harus menjadi uswah hasanah bagi anaknya. Menjadi contoh teladan haruslah memiliki akhlak karimah, dari perkataan maupun perbuatan.

Ironisnya, banyak orangtua yang dengan dalih “demi kepentingan anak” justru tanpa sadar menciptakan anak yang berpotensi menjadi pelaku bullying. Pengasuhan orangtua yang tidak proporsional, seringkali tidak memperhatikan pembentukan karakter anak. Tapi lebih pada bagaimana ‘membahagiakan’ anak pada saat itu.

Ada tiga kondisi yang jika terus terjadi, berpotensi membuat anak menjadi pelaku bullying. Pertama, orangtua yang kerap membanding-bandingkan anak. Misalkan saja si sulung yang merasa selalu disalahkan jika terjadi masalah dengan adik-adiknya, atau si bungsu yang merasa selalu dimanja dan dituruti kemauannya. Jika kondisi tersebut berlarut, keduanya bisa menjadi pembuli meskipun berlatar posisi psikologis yang berbeda.

Kedua, orangtua yang selalu menuntut anak untuk menjadi nomor satu di segala bidang. Tak peduli bagaimana caranya, anak dipaksa untuk terus bersaing dalam segala sisi kehidupannya. Dengan alasan agar masa depannya cerah dan sanggup menghadapi persaingan hidup. Kondisi psikologis anak yang tertekan atau kelelahan fisik yang mendera tidak pernah diperhatikan orangtua.

Ketiga, orangtua yang cenderung membiarkan saat anak melakukan kesalahan. Teramat dimanja, anak tak pernah diberi batasan tentang mana yang benar, mana yang salah. Mana yang boleh dilakukan dan mana yang tidak pantas dilakukan. Jangan salahkan anak jika ia menjadi tukang bullying karena merasa selalu benar dan dibela.

Mari kembali kepada nilai-nilai Islam dalam mendidik anak.