MUSLIMAH- Menengok kembali kisah Nabi Nuh AS, kita akan dibawa kembali ke sebuah kayu besar yang menyelamatkannya dari banjir bandang. Banjir tersebut adalah bentuk kemurkaan Allah karena tidak menuruti perintah-Nya. Kisah Nabi Nuh merupakan salah satu kisah nabi yang paling fenomenal dan di catat di dalam kitab agama lain. Di ceritakan, Nabi Nuh lahir ditengah kekosongan kenabian, atau di masa fatrah. Masa ini adalah puncak kekufuran manusia. Banyak tindak kejatahan, kemusyrikan dan kemaksiatan. Semua larangan Allah dilanggar begitu saja. Pada saat itu, para manusia melakukan berhala dan menamai Tuhan mereka dengan Yaguud, Khad dan Suwa.

Ditengah kekacauan tersebut, Nabi Nuh selalu mengajarkan ajaran tauhid agar senantiasa menjalankan perintah Allah S.W.T. Sayangnya, hanya sedikit saja yang mentaati ajaran Nabi Nuh. Menurut kisah Nabi Nuh A.S, hanya berkisar ratusan saja. Malah Nabi Nuh diminta membuktikan tentang azab Allah bila melanggar perintahnya. Tidak jarang Nabi Nuh mendapat pergunjingan.

Nabi Nuh Berputus Asa

Menurut riwayat, Nabi Nuh mengajarkan tentang ajaran tahuid sepanjang kurang lebih 500 tahun. Dengan waktu yang sepanjang itu, hanya beberapa ratus saja yang bersedia mengikuti ajarannya. Di dalam keputusasaannya, Nabi Nuh memohon petunjuk dari Allah S.W.T, lalu doanya akhirnya dijawab dengan datanganya air bah.

Tentang Bahtera Untuk Pengikutnya

Sebelum Allah mengirimkan banjir bandang, Allah memerintahkan Nabi Nuh beserta pengikutnya untuk bahu-membahu membuat kapal besar. Pada proses pembuatan kapal besar tersebut, Nabi Nuh mendapat berbagai macam cemooh. Hingga akhirnya beliau membuktikan azab Allah begitu nyata. Saat itu datanglah hujan yang sangat lebat dan banjir bandang. Sempat Nabi Nuh melihat salah satu putranya timbul tenggelam dalam arus air. Akan tetapi, putra Nabi Nuh terlanjur di kuasai oleh amarah setan dan akhirnya putranya tenggelam dalam banjir bandang tersebut.

Dugaan Tentang Kayu Kapal Dari Indonesia

Sempat santer berita di sebuah forum yang mengatakan bahwa kayu untuk membuat kapal Nabi Nuh tersebut di didatangkan dari Indonesia. Penemu situs kapal Nabi Nuh adalah angkatan udara A.S. Mereka menemukan sebuah situs mirip Gunung Ararat-Turki dengan ketinggian 14.000 kaki. Penemuan ini sempat dimuat di Life Magazine.

Penemuan The Noah’s Ark menarik banyak arkeolong untuk terus melakukan penelitian. Para peneliti dari Turki dan China yang memiliki anggota 15 orang akhirnya menemukan bukti baru. Dengan dikumpulkannya serpihan kayu kapal, paku dan tambang, fosil purba tersebut akhirnya diteliti dengan hasil yang mengejutkan. Mereka menyimpulkan bahwa fosil kayu tersebut berasal dari Indonesia, tepatnya Jawa Timur dan Jawa Tengah. Hasil tersebut diungkap oleh Yeung Wing di sebuah konferensi di Hongkong pada 26 April 2010 lalu. Mereka sudah mencocokkan berbagai macam sample kayu purba dan menemukan kecocokan dengan kayu Indonesia, kayu jati.

Benar atau tidaknya dugaan kayu Indonesia pada kapal Nabi Nuh, membuat kita berpikir bahwa Nabi Nuh dan pengikutnya, ribuan tahun yang lalu tinggal di Indonesia. Cukup logis jika bumi dahulu adalah dataran yang maha luas. Percaya atau tidak, semua hanya Allah yang tahu. Kita hanya perlu mengimani hikmah dari kisah Nabi Nuh ini terlepas dari benar atau tidaknya dugaan dari para arkeolog di atas. Apakah anda juga mempercayainya? Yang pasti, semoga kita selalu senantiasa bertaqwa kepada Allah.