MUSLIMAH-Gegara istilah “pribumi” yang dimuat dalam pidato politik perdananya sebagai Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan menciptakan polemik. Rakyat Jakarta terbelah lagi?

Usai dilantik oleh Presiden Joko Widodo sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta Periode 2017-2022, Anies Baswedan dan Sandiaga Uno hadir di hadapan ratusan pendukung mereka di halaman Balai Kota, Jakarta (16/10/2017). Pidato politik Anies sangat ditunggu-tunggu mengingat kemenangan ‘dramatis’ Anies-Sandi dalam Pilkada Jakarta lalu.

Sayang, secuplik pidato politik tersebut justru menjadi polemik di masyarakat.

“Jakarta adalah satu dari sedikit tempat di Indonesia yang merasakan hadirnya penjajah dalam kehidupan sehari-hari selama berabad-abad lamanya. Rakyat pribumi ditindas dan dikalahkan oleh kolonialisme. Kini telah merdeka, saatnya kita jadi tuan rumah di negeri sendiri.”

Bagi mereka yang kontra, kata “pribumi” dianggap tidak sesuai dengan konteks dan kondisi masyarakat saat ini yang membutuhkan pemersatu bangsa. Terlebih di Jakarta yang penduduknya sangat beragam. Apalagi ketika Anies-Sandi sukses menumbangkan Ahok, yang dianggap banyak orang “bukan pribumi”.

Dunia maya pun banjir komentar. Pribumi adalah kata yang dipakai Belanda untuk memecah belah bangsa. Pribumi mengingatkan pada tragedi 1998 ketika banyak toko menulis besar-besar “milik pribumi” supaya tidak dijarah. Dan ada yang menulis bahwa sudah ada larangan menggunakan kata “pribumi” dalam naskah politik apapun.

Anies berdalih, konteks kata pribumi mengacu pada masa kolonial, penjajahan berabad silam. Tetap saja, bagi banyak orang, istilah pribumi kurang tepat digunakan dalam pidato politik pertama sang gubernur yang sudah jelas-jelas diwarnai isu perpecahan. Jauh lebih bijak jika menyuarakan keseriusan Anies-Sandi bekerja untuk mewujudkan semua janji semasa kampanye.